Aliansi Mahasiswa Sumsel Menggugat dengar pendapat bersama DPRD Provinsi Sumsel

3Aliansi Mahasiswa Sumsel Menggugat harus pulang dengan kecewa. Pasalnya, keinginan mereka untuk menyampaikan secara langsung aspirasi mengenai keniakan BBM, TDL dan Kepengurusan STNK, kepada anggota DPRD RI asal Sumsel tidak tersampaikan.

“Kami datang kesini bukan untuk mendengarkan berbagai alasan dari masing-masing perwakilan (Pertamina, PLN dan Polda) mengenai latar belakang kenaikan. Tapi kami datang untuk meminta bantuan agar pemerintah membatalkan semua kenaikan tersebut. Karena apa yang kalian sampaikan sudah berkali-kali disiarkan ditelevisi,”ujar salah seorang perwakilan demonstran.

Pernyataan yang sama dikatakan perwakilan BEM Unsri. Menurutnya dia telah rela tidak kuliah untuk bertemu wakilnya di DPRD RI guna Menyampaikan tuntutannya. Tetapi dia harus kecewa, karena tidak satupun anggota DPR-RI asal Sumsel yang hadir.”jadi saya dan 1000 mahasiswa yang demo kemarin merasa kecewa, karena semua anggota DPR-RI tidak hadir,”ujarnya,yang langsung meninggalkan rapat dengar pendapat bersama DPRD Sumsel,direksi Pertamina, PLN dan Polda Sumsel, Rabu 18 Januari 2017.

Menanggapi kekecewaan mahasiswa tersebut, Ketua DPRD Sumsel, HM Giri Ramanda Nazaruddin Kiemas mengatakan, untuk masalah ini pihaknya telah mengkonfirmasi anggota DPR-RI asal Sumsel. Akan tetapi mereka semua tidak bisa hadir karna tidak ada penugasan kepada mereka untuk hadir, apalagi ini menyangkut masalah kebijakan.

“Yang jelas, kami sudah menyampaikan masalah ini ke DPR-RI. Meskipun anggota DPR-RI tidak bisa hadir, namun saya minta agar para direksi yang hadir disini dapat menyampaikan semua keluhan masyarakat, termasuk para mahasiswa terkait kebijakan yang mereka buat, kepada masing-masing pimpinan di tingkat pusat,’ujar giri.

Lebih jauh Giri meminta agar pertamina memberikan ruang yang sama untuk premium dan pertalite disetiap SPBU.”biarkan masyarakat memilih apakah mereka akan menggunakan premium atau pertalite. Kalaupun kendaraan mereka nanti lebih cepat rusak, itu tanggung jawab mereka sendiri,’kata Giri.

Sementara itu Dewi Sri Utami, perwakilan dari Pertamina Region II mengatakan, samapai saat ini tidak ada pembatasan penggunaan premium maupun solar untuk wilayah sumbagsel. Dan bahan bakar tersebut disalurkan sesuai kebutuhan.1

“kalau ada SPBU yang tidak jual premium lagi, itu pihak SPBUnya yang tidak mau jual dengan alasan peminat pertalite lebig tinggi dari premium. Selain itu keuntungan menjual pertalite lebih tinggi,”katanya.

GM PT PLN WS2JB, Budi Pangestu mengatakan, tarif listrik untuk yang kensumen non subsidi seperti listrik 1.300 VA dan industri tidak ada kenaikan. “yang naik itu hanya listrik 900 VA. Itupun tidak semuanya, hanya mereka yang dianggap mampu saja yang terifnyadinaikkan. Sedangkan yang tidak mampu, tetap dengan tarif lama,”jelasnya.