Presidium GMNI minta nasib kaum tani berubah

2Sudah 56 Tahun sejak UUPA disahkan, nasib kaum tani Indonesia tidak banyak berubah, masih miskin dan terus dipinggirkan. Berbagai persoalan dihadapi oleh kaum tani dan rakyat indonesia, baik yang bersifat daerah, nasional maupun Internasional, padahal setiap tahunnya diperingati Hari Tani Nasional setiap tanggal 24 September.

Penjelasan ini disampaikan salah satu Pendemo dari Presidium GMNI yang mendatangi kantor DPRD Provinsi Sumsel 27 September 2016. Kedatangan mereka disambut oleh wakil ketua PDI Perjuangan H. Fahlevi Maizan,SH,MH didampingi H. Fahlevi Maizano,SH,MH, Mgs. Syaiful Padli serta anggota dewan lainnya.

Mereka menambahkan para petani Indonesia mengalami penggusuran paksa dan perampasan hak atas tanah disemua tempat, kekerasan dan penangkapan paksa, pendudukan lahan reclaiming, kegiatan land clearing dan perluasan kebun sawit yang merusak ekosistem hutan, pembangunan infrastruktur, pengrusakan hutan dan banjir, kekeringan krisis pangan, kelaparan, pendirian pabrik semen di Rembang dan sebagainya.

Berdasarkan data Konsorsium pembaruan Agraria (KPA) mencatat ada 5 orang yang tewas 39 menjadi korban penembakan 124 orang dianiaya dan 278 orang lain ditahan itu semua terkait dengan konflik agraria di Indonesia.

Mereka menuntut untuk menghentikan pemberian izin warga asing untuk perkebunan di Indonesia dan segera selesaikan masalah kasus-kasus Agraria.